MENGENAL PERJANJIAN MULTIFIBER : PRAKTEK DI NEGARA-NEGARA MEE

Sook Young Yeu, Felix Oentoeng Soebagyo

Abstract


Betapa pentingnya masalah-masalah yang menyangkut produksi dan perdagangan tekstil, diantaranya : wool, cotton, man-made fibre dalam kaitannya dengan keadaan perekonomian dibeberapa negara, khususnya Indonesia dan dunia pada umumnya telah diakui. Atas prakarsa dari "the General Agreement on Tariffs and Trade (GATT)", beberapa negara berpartisipasi mengadakan perundingan-perundingan dimana akhirnya pada tahun 1973 menghasilkan suatu persetujuan multilateral di bidang tekstil, dikenal dengan "the Arrangement Regarding International Trade in Textiles atau Multifibre Agreement (MFA)" yang selanjutnya akan kita sebut dengan "Perjanjian Multifiber (PMF)".

PMF sebenarnya menggantikan perjanjian internasional sebelumnya "The Long Term Arrangement Regarding Internasional Trade in Textiles (LTA). yang mengatur dunia perdagangan tekstil semenjak tahun 1962 sampai dengan berakhirnya masa lakunya pada tahun 1973. LTA hanya meliputi produksi tekstil-cotton yang secara essential memang didesain untuk melin-dungi tekstil cotton dari negara-negara berkembang. Sebaliknya PMF bukan hanya mencakup cotton, akan tetapi juga wool dan man-made fibre. Disamping itu, di dalam penyusunannya PMF dibuat sedemikian rupa sehingga baik kepentingan negara-negara pengimpor maupun negara-negara pengekspor diharapkan menjadi lebih seimbang. 



DOI: http://dx.doi.org/10.21143/jhp.vol11.no2.844

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 1981 Sook Young Yeu, Felix Oentoeng Soebagyo

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.