METODE SEMIOTIKA HUKUM JACQUES DERRIDA MEMBONGKAR GAMBAR LAMBANG NEGARA INDONESIA

Turiman Turiman

Abstract


Derrida sebagai contoh post strukturalisme mencoba menawarkan metode dekonstruksi untuk mengatasi problem moderinitas. Sasaran dekonstruksinya ditujukan untuk membongkar sifat totaliter dari metafisika dan epistemologi Barat yang selama ini didominasi oleh logosentrisme dan metafisika kehadiran sehingga harus di dekontruksi. Serangan dekonstruksi Derrida membebaskan dua konsep tirani yang mendominasi filsafat, yaitu konsep totalitas dan esensi, sehingga menghasilkan kebenaran yang plural, unik dan relatif. Dengan demikian, keberagaman diakui keberadaannya. Kesulitan yang dihadapi Derrida adalah dia akan terjebak dalam ambiguitas yang mengarah pada nihilisme. Salah satu yang paling sulit untuk dipahami adalah dekonstruksi yaitu strategi untuk mengurai teks. Dekonstruksi adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menerangkan lembaran baru filsafat, strategi intelektual, atau model pemahaman. Model pemahaman dekonstruksi Derrida ini akan digunakan dalam menafsirkan gambar lambang negara Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 Tentang Lambang Negara dan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2009 Tentang Bendera, Bahasa, dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan, dengan satu pertanyaan mendasar apakah gambar lambang negara Indonesia saat ini figur burung Garuda atau Figur Burung Elang?


Keywords


Derrida; dekonstruksi; garuda; elang rajawali



DOI: http://dx.doi.org/10.21143/jhp.vol45.no2.6

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2015 Turiman Turiman

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.