COVID-19, PEMENJARAAN BERLEBIHAN, DAN POTENSI KATASTROFE KEMANUSIAAN

Iqrak Sulhin

Abstract


Pada tanggal 2 Maret 2020 Indonesia mencatat kasus Covid-19 untuk pertama kalinya. Sejak saat itu tren jumlah infeksi terus meningkat. Demikian pula dengan jumlah kematian. Untuk mengantisipasi penyebaran di dalam Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), Kementerian Hukum dan HAM melakukan pengeluaran narapidana, melalui percepatan asimilasi dan pembebasan bersyarat. Kebijakan serupa juga dilakukan oleh negara lain di dunia dan disarankan oleh lembaga-lembaga internasional, seperti World Health Organization dan United Nations Office on Drugs and Crimes. Namun demikian, masalah utama yang melatarbelakangi pengeluaran narapidana ini adalah kondisi overcrowding di Lapas. Jumlah narapidana dan tahanan selalu meningkat, sementara kapasitas ruang di Lapas tetap. Peningkatan ini tidak terlepas dari kecenderungan kriminalisasi dan memenjarakan pelaku kejahatan. Overcrowding merupakan awal dari berbagai masalah dalam institusi pemenjaraan. Dalam tulisan ini fokus diberikan pada buruknya masalah kesehatan dalam pemenjaraan. Sebagai institusi tertutup, penjara adalah tempat yang rentan terhadap penyebaran penyakit infeksi. Pandemi Covid-19 hanya semakin membuktikan besarnya potensi penjara menjadi katastrofe kemanusiaan

Keywords


Covid-19, pemenjaraan, pemasyarakatan, katastrofe



DOI: http://dx.doi.org/10.21143/jhp.vol50.no2.2588

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2020 Iqrak Sulhin

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.